30 Oktober, 2008

Penantian...

Rangga Mandara
Salah satu bagian tulisan dalam Buku "Titian Harapan Dilembayung Hati"
karya : Rangga Mandara 2008 

Berdiri terpaku seorang diri ditelaga cinta. Memandang indah tangisan bahagia kelelawar, yang sedang menanti malam datang. Saat itu suasana senja disebuah lekukan pesisir pantai. Kupandang indah matahari sore. Kuberi tanda bahwa aku datang untuk mencoba memamahinya dalam menanti malam. Kukhabarkan pada langit, bahwa aku sepertimu, ada awan kelabu dalam hatiku, tidak terik namun tidak juga gerimis……
Sudah berhari-hari, telah berbulan-bulan dan kini hampir menahun aku menunggumu. Menanti khabar untuk hatiku yang sedang galau. Engkau yang jauh dari sisiku saat ini, menghadirkan tanya dalam sepi. Serasa aku yang dibuang. Aku mencoba menyadari, betapa pedihnya hati yang sedang menanti. Durjana yang kurasa bila sedang merindu.
Kasih, kunantikan engkau dalam tanya hampa yang terus menyelimuti jiwaku. Teringat aku ketika engkau mengatakan “ Tunggulah aku disini, karena aku yang akan kembali dengan segala impian yang kau semai .” Terasa berat ketika perpisahan untuk sebuah pertemuan kulalui. Rasa rindu yang mendera diriku saat ini, telah kubungkus indah dalam bingkai kepahitan, kutunggu angin yang berhembus kearahmu untuk kemudian ku kirim. Tunggu, menunggu, tertunduk didepanku, karena angin pun tak mampu menyampaikannya dihadapanmu. Bukannya angin itu tak mau mencarimu untuk disampaikannya kado yang kubungkus, namun apalah daya, segala penjuru tak tahu kemana harus mencari dirimu.
Kasih, jika saat ini kebetulan engkau mendengar suara bingkisan yang kukirim ini, tolong katakan pada angin yang berhembus dan menyapa hatimu, bahwa ada asa yang kau hembuskan untuk aku hirup. Hingga jiwaku yang telah menjadi cinta ini, bisa merasa tenang dalam buaian penantian yang dilantunkan syair.
Kasih, jika engkau tahu, sudah ada sepuluh lagu penantian dan kerinduan yang kulukis melalui syair dan alunan indah gitar yang kuciptakan khusus untukmu. Saat inipun, ditempat aku berdiri, ingin kunyanyikan syair itu, biarlah ombak yang berderu akan menyampaikannya. Tapi aku belum yakin kalau ombak yang kutemani saat ini tahu akan keberadaanmu dimana.
Kasih, biarlah lagu ini kusimpan dan akan kunyanyikan disaat engkau menyapaku nanti. Bukan pada mimpi indah, tapi pada hari yang indah. Dimana aku akan memelukmu, karena bahagia, kemudian menangis dihadapanmu karena engkau yang telah kembali. Hingga aku lupa akan waktu karena ceritaku tentang kisah penantianku padamu yang panjang.
Kasih, matahari kini hanya tinggal separuh, namun awan masih kelabu, adakah engkau seperti ini? Yang juga berdiri ditengah gurun kerinduan. Menanti aku dalam pelukkanmu? Hingga kemudian aku menangis dan lupa akan waktu? Semoga awan itu memang benar darimu, karena engkau yang sedang merindukkanku dan mengirimkannya untukku agar aku tahu bahwa engkau saat ini sedang merindukkaku, seperti halnya aku yang sedang menantimu. Walau kini matahari hanya terlihat remang cahayanya, namun aku yakin engkau belum beranjak dari tempatmu yang sedang merindukkanku. Hingga aku meninggalkan tempatku, dimana aku yang sedang menantimu dalam tatapan yang penuh harap.
Kini aku sadar malam mulai mengusikku dengan suasana kegelapan yang terasa mencekam. Air mataku pun memaksa untuk menetesi kepedihan dada yang sesak karena menanti. Aku berdoa, menengadahkan kepala dan mengulurkan telapak tangan. Semoga malam yang kian larut dengan kegelapan ini, bukannya keinginan dia yang aku nanti. Aku takut kehilangan dia ya Tuhanku. Walau hatiku mulai lelah karena menantinya, walau kakiku mulai rapuh karena berdiri disini mengharap khabar darinya, walau berbagai duri yang kurasa berkali-kali ketika aku berjalan hingga ketempat ini. Karena rinduku padanya. Biarkan ….! Biarkan semua itu menyerangku, menusuk ku dan membuatku tersiksa, asalkan Ia yang kunanti menyadari betapa aku mencintainya, menyanyanginya, merindukannya dan akan terus kunanti hingga jasad ini roboh ditempat ini.
Kasih, esok akan aku tanya fajar yang menyapa diufuk timur, apakah telah terkirim arti hadirku untukmu? Hingga aku tak tahu bagaimana memejamkan mata saat kegelapan menyelimuti padang-padang, rimba raya, dan segala belantara yang ada dimuka bumi.
Kasih, esok akan kuceritakan apa yang sedang aku pikirkan nanti malam, biar engkau tahu betapa aku menunggumu dalam jiwa dan ragaku.



Amahami, 2007